Esensi dari Konsep Pelayanan yang Sesungguhnya





Dalam dunia ini, adau dua jenis orang yang bisa kita simpulkan dari logika deduksi yang sederhada. Yaitu orang yang baik, dan orang yang buruk. Kita harus sangat waspada terhadap orang yang buruk, dengan dekat dengannya saja akan membawa kita kepada masalah besar, sebaliknya kita harus mendekatkan diri kepada orang yang baik, pasalnya orang yang baik dianggap sebagai sebuah sumber keberuntungan dan dapat mendongkrak motivasi kita juga untuk berbuat baik sehingga banyak sekali pertimbangan yang bisa kita gunakan ketika kita ingin berteman atau bergaul dengan orang yang baik.

Kalau memang orang yang buruk terlihat seperti orang yang buruk umumnya tak perlu membuat kita waspada dan mulai mencurigai orag lain di sekitar kita, tapi yang berbahaya ialah ketika orang yang buruk menampilkan dirinya layaknya orang yang baik. Kita tak akan pernah tahu apa yang akan dilakukan orang lain yang mempunyai niat  buruk kepada kita ketika kita sendiri tak tahu bahwa sebenarnya orang yang sedang duduk-duduk dan mengobrol di sebelah kita merupakan orang yang buruk. Setan berwujud malaikat, bukankan itu merupakan suatu yang mengerikan.
Banyak, banyak sekali kasus yang terjadi dan persis seperti perumpamaan diatas. Banyak sekali cerita-cerita yang pernah saya dengarkan baik itu dari dosen, teman kuliah, maupun pengalaman saya seniri. Orang yang mengulurkan tangannya seolah-olah memberikan bantuan, tapi justru menjerumuskan. Memeras diri kta yang bahkan tidak sadar kalau sedang diperas.

Profesi yang rentan untuk ditempati oleh orang-orang seperti itu salah satunya ialah seorang dokter, meskipun tak tahu seberapa banyak oknum yang malakukan hal ini, tapi saya yakin bahwa setidaknya satu dua orang oknum melakukan hal ini. Dengan kekuatan yang telah dilegitimasi, seorang dokter kadang memeras pasiennya dengan memberikan diagnosa-diagnosa palsu dan menyarankan pasien untuk membeli berbagai obat-obatan yang tersusun rapi dalam daftar obat yang harus dibeli di apotik. Ya, mungkin memang tak jarang, tapi kenyataannya adalah ada oknum yang seperti itu. Mengerikan bukan?, bukannya mengabdi kepada masyarakat tapi malah menipu masayrakat dengan kemampuannya. Itulah mengapa saya kemudian mengatakan profesi dokter merupakan profesi yang rentan dimasuki oleh orang-orang buruk.

Saksi merupakan komponen yang penting dalam sebuah penyelesaian perkara di pengadilan. Yang terjadi ialah kemudian saksi menjadi suatu barang yang dikomersilkan. Seorang yang pandai melakukan tindakan persuasif terhadap orang lain kemudian menawarkan dirinya sebagai seorang saksi yang akan membantu jalannya persidangan. Bukankah itu mengerikan?, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang dibela dan mana yang dipenjara. Kalau begini kan benar dan salah seolah-olah tak ada bedanya?. Kemampuan yang ada untuk melakukan tindakan persuatif terhadap orang lain bukannya digunakan untk melakukan pekerjaan yang benar malah digunakan untuk perbuatan yang melanggar esensi dari keadilan. Ini kan berbahaya?, inilah yang menjadi jawaban atas pertanyaan besar yang kadang terlintas di benak saya. Mengapa banyak narapidana bebas dari tuntutannya?, inilah jawabannya.

Tak beda dengan saksi palsu, pengacara juga ikut terlibat dalam membenarkan hal yang salah dan menyalahkan hal yang benar. Seolah-olah sistem hukum di Indonesia ini merupakan permainan catur yang membawa keberuntungan bagi mereka. Ada kasus dan ada penyelesaian, ada penyelesaian ada pula sogokan.

Pada intinya, beberapa profesi yang saya kategorikan rawan dan berbahaya untuk dimasuki oleh orang-orang yang buruk tadi merupakan profesi yang membutuhkan keahlian khusus. Untuk itulah, mengapa saya katakana bahwa ilmu pengetahuan yang kita miliki harus diimbangi dengan pertanggungjawaban yang besar pula. Semakin besar ilmu pengetahuan yang kita miliki, maka tanggungjawab yang harus kita jaga juga semakin besar. Disinilah moral dan etika berlaku.

Comments

Popular posts from this blog

Sosiologi Serta Perannya di Masa Depan

Setangkai Lidi Dalam Sapu Keberagaman